No Buy Challenge / tantangan untuk tidak membeli barang-barang non-esensial dalam periode waktu tertentu
meliputi gerakan “No Buy Challenge” di mana masyarakat menunda pembelian barang non-esensial, kebijakan PPN naik untuk barang mewah, dan adanya tantangan untuk kelas menengah seperti kenaikan biaya hidup akibat kebijakan pemerintah.
Trend dan Kebijakan yang Viral
- “No Buy Challenge”: Gerakan yang populer di media sosial di mana orang-orang berjanji untuk tidak membeli barang-barang non-esensial (seperti pakaian, kopi, atau parfum) sepanjang tahun 2025 untuk meningkatkan kesadaran finansial dan mengubah pola pikir konsumtif.
- Kenaikan PPN Barang Mewah: Kebijakan PPN 12% diterapkan untuk barang-barang mewah seperti kendaraan, hunian, pesawat jet, dan kapal pesiar, bukan untuk semua barang seperti yang sempat dikhawatirkan.
- Tantangan Kelas Menengah: Kelas menengah menghadapi tekanan akibat biaya hidup yang meningkat, termasuk kenaikan iuran BPJS, tarif transportasi, dan potensi kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT).
- Penyaluran Dana Pemerintah ke Bank: Pemerintah menyalurkan dana Rp200 triliun ke lima bank milik negara untuk meningkatkan likuiditas dan mendorong sektor ekonomi riil, seperti yang disampaikan Menteri Keuangan pada September 2025.
Pertumbuhan Ekonomi
- Pertumbuhan Ekonomi Indonesia: Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional 2025 akan berada di atas titik tengah kisaran proyeksi, yaitu 4,6% hingga 5,4%.
- Pertumbuhan Ekonomi Global: Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,2% pada 2025, didorong oleh stimulus fiskal, tarif perdagangan yang lebih ringan, dan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).
Tantangan
- Ketidakpastian Ekonomi: Kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian dapat memengaruhi kondisi ekonomi dalam negeri.
- Ketimpangan Ekonomi: Ketimpangan kekayaan masih menjadi isu yang meresahkan, di mana kekayaan segelintir kelompok terkonsentrasi di tangan elite.
MENTRI KEUANGAN INDONESIA TAHUN KE TAHUN
1.Soenarjo Kolopaking
1945 – 1945
Kabinet Sjahrir I
14 November 1945 s.d. 5 Desember 1945
2. Samsi Sastrawidagda
1945 – 1945
2 September 1945 s.d. 26 September 1945
3. Raden Mas Pandji Soerachman Tjokrodisoerjo
1945 – 1946
– Kabinet Sjahrir I
14 November 1945 s.d. 12 Maret 1946
– Kabinet Sjahrir II
4. Alexander Andries Maramis (A.A. Maramis)
1945 – 1949
5. Sjafruddin Prawiranegara
1946 – 1951
· Kabinet Sjahrir III
2 Oktober 1946 s.d. 3 Juli 1947
· Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS)
20 Desember 1949 s.d. 6 September 1950
· Kabinet Natsir
6 September 1950 s.d. 20 Maret 1951
6. Lukman Hakim
1948 – 1950
Kabinet Halim (21 Januari 1950 s.d. 6 September 1950)
Kabinet Darurat (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia/PDRI) (19 Desember 1948 s.d. 13 Juli 1949)
Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 s.d. 14 Desember 1949)
Kabinet Susanto (20 Desember 1949 s.d. 21 Januari 1950)
7. Jusuf Wibisono
1951 – 1957
- Kabinet Sukiman-Suwirjo (27 April 1951 s.d. 3 April 1952)
- Kabinet Ali Sastroamidjojo II (24 Maret 1956 s.d. 9 April 1957)
8. Soemitro Djojohadikusumo
1952 – 1956
· Kabinet Wilopo – Prawoto
3 April 1952 s.d. 30 Juli 1953
· Kabinet Burhanuddin Haraha
9. Ong Eng Die (Wang Yong Li)
1953 – 1955
Kabinet Ali Sastroamidjojo I
27 April 1951 s.d. 3 April 1952
10. Soetikno Slamet
1957 – 1959
11. Djuanda Kartawidjaja
1959 – 1960
12. RM. Notohamiprodjo
1960 – 1963
13. Sumarno
1963 – 1966
14. Franciscus Xaverius Seda (Frans Seda)
1966 – 1968
15. Ali Wardhana
1968 – 1983
16. Radius Prawiro
1983 – 1988
17Johannes Baptista Sumarlin (JB Sumarlin)
1988 – 1993
18. Mar’ie Muhammad
1993 – 1998
18. Fuad Bawazier
1998 – 1998
19. Bambang Subianto
1998 – 1999
20. Bambang Sudibyo
1999 – 2000
21. Prijadi Praptosuhardjo
2000 – 2001
22. Rizal Ramli
2001 – 2001
Lahir di Padang pada tanggal 10 DesBandung pada tahun 1978. Selain itu dia juga pemimpin Gerakan Mahasiswa pada tahun 1977/1978 dan pernah dipenjara militer selama 5 bulan di penjara Sukamiskin Bandung. Meraih gelar Master of Art pada tahun 1982 dari Sophia University, Tokyo Jepang kemudian melanjutkan studi S3 nya di Boston University Amerika Serikat dan berhasil meraih gelar doktor Ekonomi pada tahun 1990.
Karir di pemerintahan dimulai saat Presiden Abdurrahman Wahid mengangkatnya menjadi Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) pada April 2000. Prestasinya sebagai Kepala Bulog adalah berhasil melakukan penghematan dan peningkatan efisiensi biaya yang signifikan serta menghasilkan surplus cukup besar. Pada Agustus 2000, ia diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang perekonomian untuk menggantikan Kwik Kian Gie. Pada masa jabatannya, ia mengeluarkan Kebijakan yang dinamakan 10 Program Percepatan Pemulihan Ekonomi.
Pada 12 Juni 2001, Presiden Abdurrahman Wahid melantiknya menjadi Menteri Keuangan menggantikan Prijadi Praptosuhardjo. Sebagai Menkeu, ia mewakili pemerintah ketika melakukan revis
23. Boediono
2001 – 2004
24. Jusuf Anwar
2004 – 2005
25. Sri Mulyani Indrawati
2005 – 2010
26. Agus DW Martowardojo
2010 – 2013
27. Muhamad Chatib Basri
2013 – 2014
28. Bambang P.S. Brodjonegoro
2014 – 2016
29. Sri Mulyani Indrawati
2016 – 2025
30. Purbaya Yudhi Sadewa
2025 – Sekarang
Ekonomi Triwulan III-2025 Tumbuh 5,04 Persen, Menkeu Purbaya: APBN Dikelola Efektif untuk Jaga Daya Beli
Kamis
06 November 2025
14.24
Jakarta, 6/11/2025 Kemenkeu – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2025 berada pada level 5,04 persen (year on year/yoy) didukung permintaan domestik dan kinerja ekspor yang kuat, investasi yang resilien, serta optimalisasi belanja pemerintah. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan realisasi tersebut menunjukkan bahwa APBN dikelola secara efektif, diperkuat koordinasi erat dengan otoritas moneter dan sektor keuangan. ⚡
- “APBN berperan menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kinerja dunia usaha agar lebih berdaya saing terutama di tingkat global. Dukungan fiskal juga diberikan melalui penempatan Rp200 triliun kas negara secara prudent untuk memastikan likuiditas ekonomi memadai, termasuk dukungan nonfiskal untuk debottlenecking demi realisasi investasi lebih tinggi secara berkelanjutan,” kata Menkeu dalam keterengan resminya, Kamis (6/11).
- Secara keseluruhan, momentum pertumbuhan ekonomi berdampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja sebesar 1,9 juta orang. Jumlah pengangguran turun 4 ribu orang menjadi 7,46 juta dibandingkan Agustus 2024 sehingga tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun dari 4,91 persen di Agustus 2024 menjadi 4,85 persen pada Agustus 2025.
- Dari sisi permintaan domestik, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 4,89 persen (yoy), seiring meningkatnya mobilitas penduduk, pertumbuhan transaksi digital, serta dukungan kebijakan pemerintah. Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 5,49 persen dengan belanja barang dan belanja pegawai masing-masing tumbuh 19,3 persen dan 9,0 persen merupakan wujud komitmen pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan menopang daya beli melalui percepatan dan optimalisasi belanja.
- Di sisi lain, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,04 persen (yoy) didukung keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional serta komitmen pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang stabil dan mendukung ekspansi usaha.
- Dari sisi perdagangan, ekspor barang dan jasa riil tumbuh signifikan 9,91 persen (yoy), menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. Penguatan aktivitas industri domestik, peningkatan permintaan negara mitra dagang utama, dan kuatnya daya saing produk ekspor Indonesia menjadi faktor pendorong. Dari sisi produksi, sektor industri pengolahan tumbuh solid di topang permintaan yang kuat. Impresifnya kinerja ini khususnya didorong oleh subsektor strategis berbasis hilirsasi.
Upaya menjaga daya beli dan mendukung kinerja dunia usaha dilakukan dengan optimalisasi belanja melalui program stimulus Rp34,2 triliun dan 8 program akselerasi senilai Rp15,7 triliun di triwulan IV 2025. Investasi dan ekspor bernilai tambah tinggi diperkuat melalui peran Danantara dalam mengungkit kontribusi swasta, serta debottlenecking dengan dibentuknya Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP). Dengan perkembangan data terkini, ditambah upaya optimalisasi peran fiskal sebagai enabler aktivitas ekonomi dan kebijakan nonfiskal untuk iklim usaha lebih baik, pemerintah optimis ekonomi untuk keseluruhan tahun 2025 akan mencapai target 5,2 persen.
“Ke depan, pemerintah terus mendorong agar mesin pertumbuhan ekonomi berjalan lebih cepat. Kebijakan fiskal, sektor keuangan, dan iklim investasi yang sehat akan terus disinergikan untuk menciptakan pertumbuhan tinggi. Tidak hanya tinggi, namun juga stabil dan dapat menciptakan pemerataan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan,” kata Menkeu. (dep/al)

NO BUY CHALLENGE N\BERTUJUAN UNTUK :
- Meningkatkan literasi keuangan dan kesadaran akan kebiasaan belanja di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda (Gen Z dan Milenial).
- Mempromosikan gaya hidup minimalis dan konsumsi yang lebih bijak.
- Membangun komunitas daring untuk saling mendukung dan berbagi pengalaman selama tantangan berlangsung.
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran finansial, mengurangi konsumerisme, dan membantu orang menabun
Post Comment