Mengapa Sistem Drainase di Indonesia Tidak Optimal
Banjir masih menjadi masalah di Indonesia, apalagi di perkotaan seperti Jakarta. Walaupun sudah bertahun-tahun pemerintah melakukan pembangunan infrastruktur, hujan besar masih sering memenuhi sistem drainase. Salah satu penjelasan yang dapat ditemukan adalah bahwa Indonesia masih bergantung pada sistem drainase Belanda dari masa penjajahan kolonial.
Namun, masalah sebenarnya bukan hanya karena kita menggunakan sistem drainase Belanda saja tetapi karena kegagalan dalam memodernisasi kan untuk beradaptasi dengan lingkungan Indonesia dengan kehidupan urbannya.

Pada zaman penjajahan kolonial Belanda, para insinyur Belanda mendesain sistem drainase untuk Batavia (Jakarta) dengan sistem
- Memanfaatkan gravitasi dengan membuat kanal untuk mengarahkan adr menuju sungai dan laut
- Didesain untuk populasi yang tidak terlalu padat
- Pemerintah membangun infrastruktur ini dengan asumsi curah hujan yang jauh berbeda dengan sekarang.
Desainnya bekerja dengan baik pada masa itu karena
- Area urban masih termasuk kecil
- Penggunaan tanah masih terkontrol
- Maintenance atau perawatan yang konsisten
Tetapi sistem drainase ini tidak didesain untuk kota besar dengan jutaan penduduk
Masalah dalam Sistem Drainase di Indonesia Sekar
1. Ketidakcocokan desain dengan iklim Indonesia
Indonesia memiliki iklim hutan hujan tropis dengan intensitas hujan yang tinggi. Jauh berbeda dengan Belanda yang memiliki intensitas hujan yang lebih rendah dan iklim maritim sedang.
2. Urbanisasi massal yang pesat
Kota Jakarta melakukan ekspansi besar-besaran seperti
- Mengganti jalanan hijau dengan permukaan beton dan aspal
- Kurangnya penyerapan air alami
3. Kurangnya perawatan dan mordernisasi
Tidak seperti Belanda, Indonesia tidak secara konsisten memperbaharui sistem drainase mereka sehingga sering mengalami penyumbatan karena sampah, pendangkalan karena sendimentasi, dan kurangnya penggunaan teknologi seperti pompa yang membuat kapasitas drainase semakin menurun.
4. Menurunnya permukaan tanah
Telat terjadi penurunan tanah di Jakarta yang diakibatkan pengambilan air tanah yang berlebihan yang mengakibatkan: turunnya tanah beberapa sentimeter di tiap tahunnya, sulitnya air untuk mengalir ke laut, dan menjadikan pemanfaatan gravitasi tidak efektif
Sistem Drainase Belanda yang Terus Berkembang

Belanda sudah dikenal sebagai negara dengan sistem pengelolaan air terbaik di dunia karena inovasi mereka yang tidak habisnya.
Belanda menggunakan sistem drainase yang lebih aktif seperti penggunaan pompa, pintu air dan bendungan. Tidak hanya mengandalkan gravitasi saja sehingga memberikan ruang bagi air untuk meluap secara efisien dan terkendali. Selain itu Belanda juga menggunakan sistem infrastruktur yang lebih canggih untuk menghadapi berbagai kondisi iklim.
Kesimpulan
Permasalahan banjir di Indonesia bukan hanya karena menggunakan sistem drainase Belanda, tetapi karena Indonesia masih menggunakan sistem yang sudah usang tanpa adaptasi dengan kondisi kota yang baru. Berbeda dengan Belanda yang jauh lebih modern, rumit, dan mampu beradaptasi.
Untuk mengatasi masalah banjir, Indonesia harus mengembangkan sistem drainase dengan sistem pengelolaan air aktif, memperbaiki tata kota, meningkatkan pemeliharaan dan teknologi.


Post Comment